Tagih Tabungan 42 Juta Tapi Tak Diakui, Siswi Ini Niat Bunuh Diri

Rosita telah mengumpulkan uang dengan menabung di sekolah. Uang tabungan siswi kelas 9 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTS) Negeri 1 Tumpang ini mencapai hampir Rp 42 juta lebih. Tapi ketika akan diambil, sekolah atau wali kelas tidak mengakui tabungan Rosita.

Merasa uang tabungannya tidak diakui, membuat Rosita panik, dia takut jika nanti orang tuanya menanyakan dan meminta uang tabungan itu. Karena dalam setiap menabung, Rosita mendapatkan uang dari kedua orang tuanya.

Sangking takutnya, putri pasangan Wijiyati dan Suryono ini memilih bunuh diri dengan menenggak beberapa butir pil obat sakit kepala dengan minuman bersoda.

Beruntung nyawa Rosita bisa diselamatkan setelah dilarikan ke rumah sakit tidak jauh dari tempat tinggalnya Desa Ngingit, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

“Bu guru (Widyawati) tidak mengakui jika saya menabung. Katanya itu tidak ada, sementara ibu menanyakan terus,” keluh Rosita kepada wartawan, Selasa (20/6/2017).

Selama mengenyam pendidikan di MTS Negeri 1 Tumpang, Siswi MTS yang diketahui bernama Rosita (15) dipandang sebagai siswi yang biasa, tidak pintar dan tak pula bodoh dalam kemampuan akademis.

“Sepengetahuan saya, anaknya iya begitu. Tidak pintar dan tidak bodoh,” jelas Kepala Sekolah MTS Negeri Tumpang, Pono ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/6/2017).

Pono yang baru beberapa bulan menjabat sebagai kepala sekolah MTS ini memang tidak secara langsung mengenal betul Rosita. Karena ada sekitar 563 siswa di MTS Negeri 1 Tumpang yang dipimpinnya ini.

“Kalau di kelas Rosita ada sekitar 30 sampai 32 siswa. Saya tidak persis jumlah siswa di kelas itu,” terang Pono.

Menurut Wijiyati, selama ini dia tidak pernah diberi buku tabungan oleh guru maupun pihak sekolah. Setiap ditagih buku tabungan, guru tersebut berdalih sudah mencatat di buku catatan miliknya.

” Saya sih selama ini percaya saja, soalnya dulu waktu kelas 1 dan 2  (VII dan VIII) juga nabung nggak dikasih buku tabungan, namun uangnya mesti dikasih, kok pas kelas 3 (IX) ruwet,” kata dia.

Akhirnya, muncul usulan dari yang bersangkutan untuk dilakukan sumpah pocong. Tetapi dengan sebuah sumpah pocong pun uangnya juga tidak kembali.

“Saat tahu kalau lewat sumpah pocong uang juga tidak kembali, akhirnya marah-marah meninggalkan pertemuan,” katanya.

Pihak sekolah sendiri telah melakukan beberapa kali mediasi dengan menyertakan sejumlah bukti. Tetapi mediasi itu belum cukup menjelaskan keluarga Rosita Asih.

Pihak sekolah sendiri mengaku kaget saat awal didatangi oleh orang tua Rosita, yang berniat mengambil tabungan senilai Rp 42,7 juta. Padahal uang tabungan yang tercatat hanya Rp 135 ribu.

Sejak saat itu, pihak sekolah mengumpulkan bukti-bukti yang dimiliki, termasuk uang tabungan beberapa tahun terakhir. Pihak sekolah tidak menemukan adanya setoran besar dalam buku tersebut.

Sementara itu, Wijiyati merasa tidak puas dengan sikap sekolah dan wali kelas, selaku pencatat tabungan. Padahal uang puluhan juta itu berniat untuk persiapan Lebaran sekaligus untuk rencana anaknya melanjutkan sekolah.

“Uang itu rencananya untuk Lebaran dan daftar anak saya sekolah nanti. Dia katanya ingin jadi perawat,” kata Wijiati.

Bila memanglah tidak disadari, lanjut dia, begitu aneh. Karna setiap saat saat pembayaran SPP, putrinya senantiasa ditawari dipotong dari uang tabungan.

” Bila kita ada tabungan yang seperti disebutkan gurunya, mustahil dapat potong-potong untuk bayar SPP dari tabungan, ” sesalnya.

Dari peristiwa ini, pihak keluarga mengakui tidak cuma rugi materi namun juga saat serta psikis Rosita. Terlebih aksi Rosita yang senantiasa menagih serta mencari saksi ke beberapa rekannya buat dianya dijauhi serta berasa diacuhkan oleh sekolah.

Advertisements