Banjir Februari 2017, Ramalan Ahok Itu Akhirnya Terbukti

Setelah cukup lama Kota Jakarta tidak dilanda banjir, pada Selasa (21/2/2017) harus mengalami bencana tersebut.  Banjir tersebut diakibatkan hujan deras yang terus mengguyur Kota Jakarta sejak Selasa dini hari.

Dilangsir dari Kompas.com, banjir yang akhirnya melanda Kota Jakarta kali ini memang sudah dikhawatirkan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Saat mengunjungi kantor Kompas.com, Selasa (19/1/2016), ia mengatakan mengenai banjir, di tahun 2016 ia tidak mengkhawatirkannya. Namun menurutnya yang paling bahaya (adalah pada) tahun 2017.

Kekhawatiran tersebut ada karena Indonesia mengalami kemarau panjang dan La Lina, lanjutan hujan paling besar justru di tahun 2017.

Saat itu, pria yang punya sapaan akrab Ahok ini memastikan sejumlah program untuk meminimalkan ancaman banjir di Jakarta akan terus berlanjut. Targetnya, program-program prioritas soal itu akan dikebut rampung pada 2016.

Ia pun menambahkan bahwa Jakarta akan masih baik-baik saja, terbebas dari ancaman besar banjir maupun genangan kalau hanya ada faktor hujan. Namun, bila hujan sudah mengguyur Jakarta, lalu laut juga pasang, maka Jakarta jadi ‘mangkok’.

Bagi Ahok, banjir dan genangan setiap kali musim hujan datang adalah tantangan besar. Ini masalah yang bukan baru sekarang terjadi tetapi tetap harus ditangani dan mendapat solusi. Terlebih lagi, pada masa pemerintahannya di DKI, penggusuran bantaran sebagai bagian dari normalisasi sungai dan saluran air marak terjadi.

Sepekan belakangan ini, apa yang diucapkan Ahok terbukti. Sejumlah daerah di Ibu Kota terendam air, seperti kawasan Cililitan, Rawa Jati, Kampung Pulo, Bukit Duri, Cipinang Muara, dan lainnya.

Menurut Ahok, banjir terjadi di daerah-daerah yang proses normalisasinya belum selesai. Dia meminta kesediaan warga di bantaran kali agar bersedia direlokasi agar sungainya bisa segera dinormalisasi.

Menurutnya, air di sungai ataupun di waduk dapat meluap apabila hujan terus mengguyur. Terlebih, jika sungai dan waduk yang berfungsi sebagai tampungan air berkurang daya tampungnya akibat bangunan yang berdiri di atasnya atau di pinggiranya.

“Karena itu, kalau hujan deras terus-menerus, berarti harus sediakan wadah atau tampungan air yang lebih besar. Sungai-sungai dan waduk-waduk harus diperlebar lagi,” kata Ahok.

Ahok menambahkan, banyaknya bangunan liar yang berdiri di atas sungai atau di pinggir sungai mengakibatkan penyempitan sungai. Akibatnya daya tampungnya ikut berkurang.

“Sekarang ini, wadah atau tampungan air itu kan semakin sempit,” ungkapnya.

Advertisements