Nikmati Saja jatuh Bangunmu Agar Tidak Sia-sia

Sejujurnya, tidak. Silakan mendefinisikan hidup dengan beragam teori dari berbagai bidang studi. Tapi hidup tetap punya aturan sendiri dan selamanya akan berupa misteri. Sementara di luar sana kabar tentang perang dunia santer terdengar, saya mau tidak mau memikirkan hidup saya sendiri. Sudah 25 tahun waktu yang sudah saya lalui. Berapa lagi yang tersisa?

1. Terkadang saya merasa sangat egois. Menjauh dari rumah demi mengejar rezeki

Ada kalanya saya merasa begitu egois. Di kampung halaman, orang tua semakin menua dan sendirian. Sementara saya sibuk di kota besar demi mencari sesuap nasi dan menambah sedikit demi sedikit nilai di buku tabungan. Tak jarang saya berpikir untuk pulang saja dan melepaskan segalanya. Pasti di rumah nanti ada sesuatu yang bisa saya kerjakan. Toh, katanya rezeki itu sudah ada yang mengatur. Namun bila tidak dicari, akankah rezeki datang sendiri? Bila saya duduk saja di rumah tidak mengerjakan apa-apa, apakah perut ini akan kenyang sendiri? Bukankah, hidup saya ini adalah tanggung jawab saya sendiri?

2. Mematok mimpi yang begitu tinggi.  Orang bilang saya tak bisa bersyukur

Sebagai generasi millennial abad21, saya sering berubah pekerjaan. Seringkali saya tak sabar menunggu masa kontrak berakhir hingga saya bisa pergi karena pekerjaan sekarang terasa membosankan dan mencoba sesuatu yang baru. Mungkin terdengar tidak keren. Sementara orang lain kesulitan mencari kerja, saya malah dengan sombongnya berganti-ganti pekerjaan dengan alasan ‘bosan’. Kata orang saya juga menggantung mimpi yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Lalu berbondong-bondong pertanyaan “Apa sih yang kamu cari?” berdatangan. Namun bukankan justru itu yang sedang saya usahakan? Menemukan sesuatu yang benar-benar saya cari dan apa yang benar-benar saya impikan?

3. Dia yang mencoba dan gagal jauh lebih mengagumkan daripada yang tidak mencoba

Hidup memang tak selalu baik hati. Barangkali karena itulah banyak orang yang bilang mimpi saya terlalu tinggi karena risikonya terlalu besar. Memang ada kalanya apa yang terjadi ternyata begitu melenceng dari rencana. Ekspektasi yang telanjur tinggi membuat sakit hati semakin pahit rasanya. Kegagalan demi kegagalan terjadi sampai-sampai saya harus mempertanyakan mimpi sendiri. Meski kegagalan memang menyakitkan, setidaknya saya sudah mencoba. Itu jauh lebih baik daripada mundur perlahan padahal belum usaha apa-apa. Setidaknya mencoba dan gagal sakitnya hanya satu kali, tetapi pelajaran berharganya tidak dapat dibeli dengan apapun. Sementara tanpa mencoba saya tidak pernah tahu hasilnya.

4. Setiap duka dan tangis adalah pembelajaran. Mengapa menghindar?

Kegagalan memang tidak pernah menyenangkan. Butuh hati yang besar dan keikhlasan untuk bisa melampaui segala kecewa dan menumbuhkan semangat untuk bangkit agar saya bisa segera berbenah. Namun tak ada yang perlu saya sesali bukan? Hidup memang naik dan turun, sementara apa yang kita inginkan memang tak semua bisa didapatkan. Barangkali saya memang harus mengalami kebuntuan, kesedihan, dan kegagalan supaya saya bisa belajar. Namun bukankah memang seperti itu kehidupan? Pahit manisnya menjadi sebuah rasa yang bisa dinikmati bersama-sama.

5. Sebanyak apapun teori kebebasan, nyatanya hidup ini memang terbatas

Di depan sana, satu-satunya yang terlihat pasti hanyalah kematian. Saya boleh punya setumpuk rencana yang bila dijilid mungkin jadi satu novel remaja, tapi yang sudah pasti datang hanyalah kematian.

Hidup hanya jeda waktu antara ada dan tiada. Itulah waktu yang saya miliki untuk melakukan apapun yang saya inginkan. Itulah kesempatan terbatas yang harus saya manfaatkan sebaik-baiknya. Selepas nyawa ini lepas dari badan, maka setumpuk daftar cita-cita itu hanya tinggal angan saja. Saya hanya tinggal nama dan citra atas apa-apa yang sudah saya lakukan.

6. Saya tidak ingin kuliah, kerja, menikah, kemudian mati dan kemudian dilupakan

Dulu saat masih remaja, hidup memang lebih sederhana. Saya percaya begitu saja bahwa siklusnya memang: lahir – sekolah – kuliah – kerja – menikah – punya anak – mati. Namun sekarang saya mengerti bahwa jeda antara lahir dan mati itulah waktu yang harus saya tentukan sendiri. Tuhan sudah memberikan batasnya, tinggal saya yang harus membentuknya menjadi apa. Hidup hanya satu kali, tentunya sayang bila hanya saya lewatkan dengan mengikuti rumus orang kebanyakan. Harus ada yang dikejar, harus ada yang dicapai, dan harus ada yang dilakukan. Sebab saya tak ingin setelah mati nanti lalu dilupakan. Barangkali dengan berjalan sejauh mungkin, saya akan dengan senang hati pulang.

Siapalah saya yang berani berharap hidup yang super menyenangkan dan mampu mengusir segala getir yang hendak singgah? Atas segala pahit dan getirnya, tetap saja hidup layak dijalani dengan sepenuh hati. Karena tentu saya perlu melewati medan yang terjal dan berbahaya untuk bisa sampai di puncak gunung dan menikmati keindahannya.

Advertisements