Gaji Tak Seberapa Tidak Perlu Bergaya Sosialita

Jokowi Aja Beli Sepatu Diskonan! Orang nomor satu di Indonesia itu tidak segan memilih sepatu-sepatu yang dilabeli harga 150.000-250.000 (diskon 20%). Namun akhirnya Jokowi memilih sebuah sepatu yang didiskon 50%, sehingga nominalnya menjadi 350.000. Untuk ukuran seorang Presiden, tentunya nominal itu sangatlah sederhana. Tak hanya menghebohkan netizen Indonesia, acara belanja-belanji Jokowi ini sampai diliput oleh media luar negeri.

Tentu Presiden Jokowi kita membeli barang diskon bukan karna alasan akhir bulan dan belum gajian seperti kita. Ada sebagian yang menganggap perilaku Jokowi sebagai pencitraan, tetapi terlepas dari itu semua, Gaya hidup Jokowi Pantas jadi panutan kita semua. Gaji besar dan jabatan yang tinggi, tak melulu harus diikui dengan gaya hidup hedon luar biasa.

1. Fungsi berubah jadi gengsi. Asal bisa pamer kelas sosial, minim guna pun tak masalah

Membeli kebutuhan primer seperti pakaian, tas, sepatu, dan mungkin alat komunikasi juga tidak bisa lagi sembarangan. Dunia yang materialistis, terkadang menilai seseorang dari berapa harga baju, jam tangan, sepatu, tas, dan tentunya merk HP apa yang digunakan. Semakin mahal dan berkelas merk barang-barang yang kamu kenakan, semakin keren pula kamu akan terlihat. Di sini, fungsi sudah beralih menjadi gengsi.

2. Demi disebut hits dan gaul abis, kamu nggak boleh ketinggalan tren. Mahal pun, semua dilakoni demi eksistensi

Tuntutan pergaulan memang tidak main-main. Terkadang untuk sekadar dianggap hits dan diakui dalam status sosial, kita bergaya hidup ala sosialita. Belanja barang-barang mahal, nongkrong di kafe setiap malam, lalu liburan ke sana ke mari, tanpa memikirkan pengeluaran. Bahkan kalau bisa, lima puluh persen dari penghasilan digunakan untuk keperluan ‘bergaul’. Sisanya dibagi-bagi secara super ngirit untuk makan sehari-hari, bayar kosan, membeli keperluan sehari-hari. Kalau perlu sampai meminjam. Yang penting ‘konkow cantik’ harus tetap jalan.

3. Dibanding barang bermerek yang tahun depan mungkin sudah tak populer, mending mulai menabung untuk keperluan masa depan

Kelak semakin kamu dewasa, semakin banyak pula kebutuhan yang harus kamu penuhi. Orangtua semakin menua, sebagai anak tentu kamu harus gantian memenuhi kebutuhan mereka. Belum lagi nanti ketika kamu sudah berkeluarga. Dengan kewajiban mulai dari bayar uang sekolah anak, biaya hidup sehari-hari, cicilan rumah dan kendaraan, semua itu membuat kesempatanmu untuk menabung justru semakin sempit.

4. Orientasi selalu brand luar negeri biar dianggap anak masa kini. Padahal banyak produk dalam negeri yang kualitas teruji dan harga yang manusiawi

Demi memenuhi gengsi, orientasi yang digunakan selalu brand luar negeri. Katanya harga menentukan kualitas. Namun terkadang bila sudah sampai di tahap atas, harga tidak lagi soal kualitas, melainkan semata nilai prestise. Padahal bila ingin kualitas, tidak harus dengan produk luar negeri yang harganya bikin kamu harus puasa selama tujuh hari.

5. Masa muda bukanlah waktunya untuk berhura-hura. Justru waktunya kamu menempa diri untuk adaptasi dengan segala kondisi

Miskonsepsi yang selama ini terjadi pada anak muda adalah bahwa masa muda adalah masanya berhura-hura. Karena nanti kalau kita sudah berkeluarga, tentu kita tidak bisa sebebas sekarang. Masa muda hanya terjadi satu kali, kenapa tidak dinikmati? Namun justru karena masa muda hanya satu kali, bukankah seharusnya dimanfaatkan dengan baik?

6. Gaji yang besar bukan alasan untuk menuruti semua yang ingin dibeli. Terkadang kita harus jeli membedakan kebutuhan dan keinginan

Teori bahwa semakin besar penghasilan seseorang, semakin besar pula kebutuhannya tentu ada benarnya. Sebab dengan semakin banyaknya uang yang kita punya, ruang gerak lebih luar, sehingga kita juga akan melihat dalam scope yang lebih luas. Kebutuhan adalah hal-hal yang tanpanya kamu tidak bisa hidup, misalkan tempat tinggal, makanan, dan pakaian. Sementara keinginan, adalah hal-hal yang tanpanya kamu tetap bisa hidup normal. Kita harus jeli membedakan.


Advertisements